Catatan Seorang Demonstran

Dikutip oleh https://betwin188.website/ tentang Pemikiran dan gagasan dari Hok Gie memiliki fokus kepada tiga hal utama, hal kebangsaan, hal kemahasiswaan dan hal kemanusiaan. Dalam catatan harian dan berbagai tulisan di surat kabar, ketiga hal ini selalu menjadi topik utama gagasan Hok Gie. Hal kebangsaan menyangkut pemikiran yang berhubungan dengan politik dan kekuasaan. Hal kemahasiswaan kebanyakan menyangkut aktivitas di kampus dan pergerakan mahasiswa 1966. Hal kemanusiaan berkaitan dengan segala hal yang menyangkut hak asazi, kepentingan publik.

Dalam hal kebangsaan salah satu pemikiran Hok Gie yang paling awal diutarakan adalah perlunya regenerasi pemimpin di Indonesia.

“Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua.. Mereka adalah pejuang-pejuang kemerdekaan yang gigih. Tetapi kini mereka telah mengkhianati apa yang diperjuangkan. Generasi baru yang hidup di zaman setelah kemerdekaan sudah waktunya mengambil tampuk kekuasaan dari generasi tua. Generasi-generasi baru adalah generasi yang memiliki semangat tinggi untuk membangun negara. Generasi yang baru akan menjadi hakim atas mereka yang dituduh korupsi, dan generasi ini pula yang akan memakmurkan Indonesia”

Pemikiran ini timbul ketika Hok Gie menemukan realita di sekitarnya, di mana banyak rakyat sengsara sedangkan para pemimpin hidup bermewah-mewahan. Perlunya regenarasi terhadap pemimpin Indonesia menurut Hok Gie mengacu dari keadaan moral para pemimpin saat itu. Dalam pandangannya, beberapa pemimpin tertinggi bangsa hidup dengan tata cara yang jauh dari seharusnya.

Hok Gie memiliki pemikiran tentang sebuah generasi baru. Generasi yang lahir sesudah kemerdekaan, yang tumbuh besar dalam suasana kebangsaan yang bebas dan merdeka. Generasi baru adalah generasi yang lahir sesudah tahun 1945 yang kemudian akan menjadi manusia-manusia baru Indonesia. Manusia-manusia baru ini tumbuh dalam optimisme-optimisme pembangunan. Generasi yang memiliki cita-cita tinggi dalam pendidikan, ekonomi, dan aspek-aspek lainnya.

Ketidaksukaan terhadap pemerintah, Soekarno dan menteri-menterinya mendorong Hok Gie terlibat dengan Gerakan Pembaruan. Gerakan Pembaruan atau GP merupakan gerakan bawah tanah yang bertujuan melengserkan pemerintahan presiden Soekarno. GP dikendalikan oleh Soemitro Djoyohadikusumo yang merupakan lawan politik Soekarno. GP bergerak secara tersembunyi, dengan agenda utama menginfiltrasi berbagai lapisan masyarakat dengan ide-ide revolusioner untuk melengserkan pemerintah orde lama.

Hok Gie banyak menyebarkan selebaran-selebaran yang berisi tentang manifesto-manifesto politiknya yang menentang pemerintahan Soekarno. Menuliskan kritiknya secara terbuka, menyelenggarakan diskusi-diskusi politik dan menyebarkan gagasan-gagasannya secara luas. Dari aktivitas di GP inilah Hok Gie kemudian mulai dikenal di kalangan aktivis mahasiswa, politisi partai, kalangan militer, dan lain sebagainya. Hok Gie juga mulai rajin menulis opini dan artikel artikel yang berisi permasalahan kebangsaan dan pandangan pribadinya.

Permasalahan etnis Cina di Indonesia tidak luput dari perhatian Soe Hok Gie. Secara umum etnis China di Indonesia memiliki dua pokok permasalahan. Permasalahan kewarganageraan yang tidak jelas serta persaingan perekonomian dengan pribumi.[2] Masalah kewarganegaraan ganda menjadi masalah yang rumit mengingat permasalahan ini membutuhkan penyelesaian dari kedua negara, Republik Rakyat Cina dan Republik Indonesia. Permasalahan ekonomi muncul akibat penetrasi kegiatan ekonomi masyarakat etnis cina hampir di semua sektor.

Dari dua pokok permasalahan di atas, muncul perdebatan di kalangan masyarakat etnis Cina dalam mencari solusi. Salah satu perdebatan terkemuka lahir dari sebuah majalah bernama Star Weekly.[3] Perdebatan ada di sekitar cara masyarakat keturunan cina menempatkan diri di tengah kehidupan berbangsa. Ide integrasi dan ide asimilasi merupakan dua ide yang ramai diperdebatkan di kalangan masyarakat etnis Cina. Dari perdebatan di majalah tersebut mucul dua sikap dari masyarakat etnis Cina, mendukung asimilasi atau mendukung integrasi.

Ide integrasi adalah proses masuknya masyarakat etnis Cina ke dalam masyarakat Indonesia sebagai etnis minoritas yang berbeda, dengan mempertahankan identitas sosial dan kultural sebagai suku bangsa tersendiri dengan adat istiadat sendiri. Ide integrasi berpendapat bahwa hak-hak individu masyarakat etnis Cina sebagai etnis tersendiri harus dibela dari berbagai tindak pelanggaran. Ide asimilasi berarti proses melebur masyarakat Cina ke dalam masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Asimilasi menjadikan identitas nasional bangsa Indonesia sebagai identitas tunggal.[4]

Langkah memperjuangkan asimilasi dimulai dari penandatangan Manifesto Asimilasi[5] pada 1960. Disusul penerbitan Piagam Asimilasi[6] pada tahun 1961. Pada tahun 1962 dibentuk badan Urusan Pembinaan Kesatuan Bangsa (UPKB) yang didukung oleh Angkatan Bersenjata sebagai lawan dari Baperki yang didukung kekuatan komunis. LPKB dibentuk tahun 1963 setelah pihak-pihak yang nenyuarakan ide asimilasi mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Pada tanggal 10-12 Maret diadakan Musyawarah Asimilasi yang kemudian mengumumkan pembentukan LPKB. Shindunata[7] terpilih sebagai ketua kepemimpinan pusat organisasi ini.

Dalam aksi demonstrasi mahasiswa 1966, Hok Gie memiliki pemikiran tentang alasan mengapa mahasiswa harus ikut bergerak dalam aksi demonstrasi, dan bagaimana seharusnya demonstrasi berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *